MUBA — Sumselraya.com Pembangunan Jembatan P6 di Kecamatan Lalan, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), hingga kini belum menunjukkan progres berarti. Di balik proyek yang seharusnya menjadi urat nadi mobilitas warga, tersimpan persoalan serius: lambannya pengerjaan, minimnya tenaga kerja, hingga bayang-bayang tragedi yang belum sepenuhnya terjawab.
Hasil penelusuran di lapangan dan keterangan warga mengindikasikan adanya ketidaksesuaian antara komitmen percepatan yang pernah disampaikan pemerintah dengan realisasi di lapangan. Proyek yang diharapkan menjadi solusi justru terkesan berjalan stagnan.
Salah satu warga Lalan, Rohmadi, secara tegas menyampaikan kekecewaan masyarakat. Ia menilai belum ada keseriusan nyata dari pihak terkait, baik di tingkat kabupaten maupun provinsi.
“Ini akses utama kami. Tapi kondisinya seperti terbengkalai. Kami tidak melihat keseriusan untuk segera menyelesaikannya,” ujar Rohmadi, Kamis (9/4/2026).
Sebagai jalur vital, Jembatan P6 memiliki fungsi strategis bagi aktivitas ekonomi warga, terutama dalam distribusi hasil perkebunan dan kebutuhan pokok. Ketika pembangunan berjalan lambat, dampaknya langsung dirasakan masyarakat.
“Setiap hari kami bergantung pada jalur ini. Kalau seperti ini terus, aktivitas warga jelas terganggu,” tambahnya.
Rohmadi, Salah Satu dari keluarga Korban meninggal atas ambruknya jembatan P6 Lalan.
Temuan lain yang menguatkan dugaan lambannya progres adalah minimnya jumlah pekerja di lokasi proyek. Berdasarkan pengamatan warga, aktivitas pengerjaan hanya dilakukan oleh dua hingga tiga orang pekerja dalam satu waktu.
“Kalau hanya segitu orangnya, bagaimana bisa cepat selesai? Ini yang jadi pertanyaan kami,” kata Rohmadi.
Padahal sebelumnya, pihak pemerintah bersama aparat kepolisian dan TNI sempat menyampaikan komitmen untuk mengawal percepatan pembangunan. Namun, hingga kini belum terlihat adanya peningkatan signifikan di lapangan.
“Pernah ada pernyataan akan dikawal, tapi faktanya tetap molor. Kami butuh bukti, bukan janji,” tegasnya.
Lebih jauh, proyek ini juga menyimpan luka mendalam bagi warga. Rohmadi harus kehilangan putranya, Misbahul Munir (30), dalam peristiwa ambruknya Jembatan P6 beberapa waktu lalu setelah ditabrak tongkang batubara.
Peristiwa tragis yang terjadi sekitar pukul 20.30 WIB itu menjadi titik balik bagi masyarakat dalam memandang pentingnya keselamatan dan percepatan pembangunan infrastruktur tersebut.
“Anak saya meninggal di situ. Ini bukan sekadar proyek, ini soal nyawa,” ucapnya lirih.
Informasi yang dihimpun, keluarga korban memang sempat menerima santunan dari Asosiasi Lalu Lintas di Bawah Jembatan P6 Lalan (AP6L). Namun, transparansi dan kejelasan bentuk tanggung jawab dari pihak lain, termasuk pemerintah dan pihak terkait aktivitas tongkang, masih menjadi tanda tanya.
“Dari asosiasi ada bantuan. Tapi dari pihak lain, kami tidak tahu jelas. Ini juga perlu dijelaskan,” ungkap Rohmadi.
Kondisi ini memunculkan sejumlah pertanyaan krusial:
Apakah proyek ini mengalami kendala teknis atau administratif?
Bagaimana pengawasan terhadap pelaksanaan proyek di lapangan?
Siapa yang bertanggung jawab atas lambannya progres serta keselamatan warga?
Masyarakat Lalan kini tidak hanya menuntut percepatan pembangunan, tetapi juga transparansi dan akuntabilitas dari seluruh pihak yang terlibat. Mereka berharap pemerintah tidak lagi sekadar memberikan pernyataan, melainkan langkah konkret yang terukur.
“Yang kami butuhkan sekarang kepastian. Jangan sampai ada korban lagi,” tutup Rohmadi.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait mengenai penyebab keterlambatan proyek maupun target penyelesaian Jembatan P6 Lalan. (Adi)