Kadin Sumsel Expo Bidik Transaksi Rp60 Miliar, Target Cetak 1.000 Sultan Muda

Sumsel102 Dilihat

PALEMBANG, Sumselraya.com – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sumatera Selatan kembali menggelar Kadin Sumsel Expo ke-4 yang berkolaborasi dengan International Franchise & Business Expo (IFBEX) 2026. Pameran ini menargetkan transaksi hingga Rp60 miliar sekaligus mendorong lahirnya 1.000 sultan muda baru di Sumatera Selatan.

Berlangsung di Main Atrium Palembang Square Mall, Kamis (15/10/2026), kegiatan ini diikuti hampir 50 peserta. Pameran tersebut menjadi wadah bagi pelaku usaha, calon investor, dan masyarakat untuk mengenal peluang bisnis melalui sistem waralaba dan kemitraan.

Ketua Umum Kadin Sumsel, H. Affandi Udji, S.E., M.M., menekankan pentingnya sinergi dunia usaha dalam memperluas peluang bisnis, memperkuat UMKM, serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Kolaborasi dengan IFBEX diharapkan membuka akses pasar dan peluang kemitraan yang lebih luas bagi pelaku usaha lokal.

Sementara itu, Ketua Pelaksana Kadin Sumsel Expo ke-4, Djoko Kurniawan, mengatakan pameran ini tidak sekadar menjadi ajang promosi produk, tetapi juga sarana edukasi kewirausahaan bagi masyarakat, termasuk mahasiswa yang ingin memulai bisnis.

Menurut Djoko, peluang usaha tidak selalu harus dimulai dengan modal besar. Melalui sistem kemitraan yang terstruktur dan perhitungan bisnis yang tepat, calon pengusaha dapat membangun usaha secara lebih terarah.

“Tujuannya jelas, sesuai arahan pemerintah, menciptakan minimal 1.000 sultan muda baru,” ujar Djoko.

Ia menjelaskan, Kadin Sumsel Expo ke-4 diharapkan menjadi wadah bagi calon wirausaha untuk mengenal model bisnis yang berpotensi dikembangkan, sekaligus mempertemukan pelaku usaha dengan calon mitra dan investor.

Pempek Palembang Harus Menembus Pasar Nasional

Djoko menyoroti besarnya potensi produk unggulan Sumatera Selatan, seperti pempek, celimpungan, dan es kacang merah, yang dinilai dapat dikembangkan menjadi bisnis berskala nasional.

Menurutnya, produk lokal perlu didukung strategi pengembangan usaha yang tepat agar tidak hanya dikenal sebagai kuliner khas daerah, tetapi juga mampu menjangkau pasar yang lebih luas melalui jaringan distribusi dan kemitraan.

“Kita dorong produk lokal seperti pempek, celimpungan, es kacang untuk go Indonesia. Targetnya pempek Palembang bisa ditemukan di 513 kabupaten/kota di Indonesia,” tegas Djoko.

Ia menilai pengembangan jaringan usaha menjadi salah satu langkah penting untuk memperluas pasar produk lokal. Dengan sistem kemitraan yang terencana, pelaku UMKM berpeluang membangun jaringan outlet sekaligus menciptakan kesempatan usaha baru.

Standarisasi dan Perhitungan Bisnis Jadi Tantangan UMKM

Djoko mengatakan, tantangan UMKM tidak semata-mata terletak pada keterbatasan modal. Persoalan lain yang perlu mendapat perhatian adalah minimnya pemahaman mengenai standarisasi operasional dan pengelolaan keuangan usaha.

Ia mencontohkan bisnis kuliner yang belum memiliki standar operasional prosedur (SOP) secara terperinci. Dalam produksi pempek, misalnya, takaran adonan, suhu pengolahan, dan tahapan produksi harus dijaga konsistensinya agar kualitas produk tetap sama di setiap outlet.

Menurutnya, standarisasi merupakan salah satu fondasi penting untuk mengembangkan usaha melalui sistem waralaba maupun kemitraan.
Selain itu, pelaku UMKM perlu memahami perhitungan modal awal, pendapatan, biaya operasional, keuntungan, hingga titik impas atau Break-Even Point (BEP).

“Contohnya gerobak pempek Rp50 juta, profit Rp5 juta per bulan, BEP 10 bulan. Kalau hitungannya jelas, investor pasti tertarik. Kemitraan bisa mempercepat perkembangan bisnis,” jelas Djoko.

Ia menambahkan, pemahaman terhadap perhitungan bisnis dapat membantu pelaku usaha menilai kelayakan investasi sekaligus memberikan gambaran yang lebih jelas kepada calon mitra mengenai potensi pengembalian modal.

Jangan Sampai Produk Lokal Kalah di Rumah Sendiri

Djoko juga mendorong pelaku UMKM Sumatera Selatan untuk lebih berani membangun merek dan jaringan usaha sendiri. Menurutnya, produk lokal perlu dikembangkan melalui model bisnis yang memiliki identitas kuat, standar operasional jelas, serta strategi pemasaran yang terarah.

Ia mencontohkan konsep pengembangan jaringan usaha seperti Rumah Pempek Palembang atau Rumah Kacang Merah Palembang. Melalui pendekatan tersebut, produk khas daerah diharapkan dapat berkembang melampaui pola penjualan konvensional, seperti menitipkan produk di toko lain.
Djoko menilai pelaku usaha lokal perlu meningkatkan kreativitas dan kemampuan pengelolaan bisnis agar mampu bersaing, termasuk ketika produk khas Palembang dipasarkan dan dikembangkan oleh pengusaha dari luar daerah.

“Jangan sampai kita kalah bersaing di produk kita sendiri. Makanya harus libatkan ahli lokal dan edukasi yang benar,” tutup Djoko.

Melalui Kadin Sumsel Expo ke-4 yang bersinergi dengan IFBEX 2026, penguatan edukasi kewirausahaan, standarisasi produk, dan pengembangan kemitraan diharapkan mampu membuka peluang usaha baru serta memperluas jangkauan produk unggulan Sumatera Selatan ke pasar nasional dan internasional.

(Adi)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *