Palembang — Sumselraya.com Komitmen mempercepat keberhasilan Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) terus diperkuat oleh pelaku industri dan pemerintah daerah. Hal ini mengemuka dalam Workshop Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) dan Pekan Benih Sawit 2026 yang digelar di Ballroom Hotel Aryaduta Palembang, Sumatera Selatan, Rabu (12/2/2026).
Kegiatan ini menjadi momentum strategis yang mempertemukan petani, perusahaan perkebunan, asosiasi industri, serta pemerintah daerah dalam satu forum edukasi dan kolaborasi. Rangkaian agenda meliputi workshop dan klinik PSR, workshop pupuk, pameran benih sawit, pameran agrokimia, hingga deklarasi bersama melawan peredaran benih sawit ilegal.
Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Sumatera Selatan, Alex, menegaskan bahwa PSR merupakan instrumen penting untuk meningkatkan produktivitas kebun sawit rakyat sekaligus menjaga daya saing industri sawit daerah.
“Di Sumatera Selatan, luas perkebunan kelapa sawit mencapai sekitar 1,2 juta hektare. Dari jumlah tersebut, sekitar 550 ribu hektare atau 43–44 persen merupakan kebun milik petani. Artinya, keberhasilan PSR sangat menentukan masa depan industri sawit Sumsel,” ujar Alex.
Ia menekankan bahwa penggunaan benih unggul dan bersertifikat menjadi kunci utama dalam program peremajaan sawit. Menurutnya, benih ilegal bukan hanya merugikan petani secara ekonomi, tetapi juga mengancam keberlanjutan industri sawit dalam jangka panjang.
“Dampak benih ilegal biasanya baru terasa ketika tanaman mulai berproduksi. Pada saat itu, petani akan berada dalam posisi sulit karena tidak ada pihak yang bisa dimintai pertanggungjawaban,” tegasnya.
Alex juga menyoroti pentingnya kemitraan antara perusahaan dan petani melalui kelembagaan kelompok tani atau koperasi. Skema kemitraan dinilai mampu memperkuat pembinaan, pendampingan, serta akses petani terhadap teknologi dan pembiayaan.
Dukungan terhadap PSR juga ditegaskan oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan. Asisten I Gubernur Sumatera Selatan, H. Apriadi, menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi ruang strategis untuk membahas kualitas sawit dari hulu, khususnya aspek pembibitan.

“Hari ini kita lakukan FGD yang membahas mengenai kualitas sawit ini dari hulu yaitu pembibitan. Harapannya dampak dari kegiatan ini sangat besar, kita mencari solusi dengan duduk bersama untuk mempermudah petani sawit mendapatkan akses bahan, akses modal, dan akses peralatan yang dibutuhkan,” ungkap Apriadi.
Menurutnya, PSR tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga pada penguatan ekosistem perkebunan sawit rakyat, mulai dari pembibitan, pembiayaan, hingga sarana produksi.
Pemprov Sumsel menilai bahwa program peremajaan sawit rakyat bukan sekadar program teknis perkebunan, tetapi bagian dari strategi pembangunan ekonomi daerah berbasis kerakyatan. Melalui sinergi antara pemerintah, pelaku industri, dan petani, PSR diharapkan mampu meningkatkan produktivitas kebun sawit rakyat secara signifikan sekaligus memperkuat daya saing sektor perkebunan.
Workshop PSR dan Pekan Benih Sawit 2026 ini sekaligus menjadi ruang edukasi bagi petani untuk memahami pentingnya penggunaan benih berkualitas, tata kelola kebun yang baik, serta perlunya kolaborasi multipihak dalam mewujudkan perkebunan sawit yang berkelanjutan.
Sinergi GAPKI dan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan diharapkan menjadi fondasi kuat dalam mempercepat keberhasilan Program PSR, sekaligus memastikan industri sawit rakyat tumbuh produktif, berdaya saing, dan berkelanjutan di Sumatera Selatan.
(Bro Adi)















