PALEMBANG, Sumselraya.com – Dua dekade berada di tengah hiruk-pikuk dunia otomotif membuat Muhammad Fariz Dwi Saputra tak hanya mengenal dunia balap dari balik garis start. Ia melihat bagaimana pembalap berjuang mencari prestasi, klub berusaha menggelar event, sponsor mencari ruang promosi, hingga penyelenggara berjibaku dengan persoalan perizinan.
Dari pengalaman panjang itulah muncul satu kegelisahan: ekosistem otomotif Sumatera Selatan dinilai memiliki potensi besar, tetapi belum sepenuhnya bergerak dalam satu irama.
Kegelisahan tersebut kini mendorong Fariz, yang lebih dikenal dengan sapaan Fariz Montesz, menyatakan diri maju sebagai calon Ketua Ikatan Motor Indonesia (IMI) Sumsel periode 2027-2031.
Bagi Fariz, pencalonan itu bukan sekadar pertaruhan untuk menduduki kursi ketua. Ia ingin menjadikan IMI Sumsel sebagai rumah bersama bagi klub, atlet, penyelenggara event, Pengcab, sponsor hingga komunitas otomotif.
“Saya maju sebagai calon Ketua IMI Sumsel bukan karena jabatan, tapi karena panggilan. Panggilan untuk membenahi rumah besar kita, IMI Sumatera Selatan,” kata Fariz.
Ia melihat Sumsel sebenarnya memiliki modal kuat untuk menjadi salah satu daerah penting dalam peta otomotif nasional. Keberadaan Sirkuit Skyland dan Sirkuit Manggul, ditambah besarnya minat generasi muda terhadap olahraga otomotif, menjadi potensi yang menurutnya harus dikelola secara lebih serius.
Namun, potensi tanpa sistem pembinaan dan tata kelola yang kuat, menurut Fariz, tidak akan menghasilkan prestasi maksimal.
Persoalan itu mulai dari pembinaan atlet, penyelenggaraan event, perizinan, sponsorship hingga penguatan organisasi.
“Selama ini saya melihat sendiri, atlet berbakat belum dibina secara optimal. Klub penyelenggara juga masih menghadapi kesulitan, termasuk biaya dan proses mengurus izin event. Event yang sebenarnya bagus terkadang tenggelam karena kurang gaung,” ujarnya.
Dari Keluarga Montesz ke Panggung IMI
Dunia otomotif bukan ruang baru bagi Fariz.
Ia tumbuh di lingkungan keluarga yang telah lama hidup bersama dunia balap. Ayahnya, Barnas Bursyah, merupakan salah satu pendiri Montesz Sport Club bersama Handoko Halim, Beben Bursyah dan Deden Bursyah.
Didirikan sejak era 1980-an, Montesz kemudian dikenal sebagai salah satu klub otomotif tertua di Indonesia.
Tradisi tersebut berlanjut ke generasi berikutnya. Montesz berkembang menjadi event organizer otomotif yang produktif, dengan berbagai konsep perlombaan yang mengikuti perkembangan zaman, termasuk night race dan sportainment.
Sebelum pandemi Covid-19, Montesz bahkan mampu menggelar sekitar 20 hingga 30 event setiap tahun di berbagai wilayah Sumatera dan Jawa.
Fariz sendiri pernah berada di berbagai sisi dunia otomotif. Ia pernah menjadi pembalap slalom pada 2004-2008, manajer tim, pimpinan lomba, dewan juri, penyelenggara event hingga organisatoris.
Sebagai manajer tim, ia pernah menangani kontingen balap motor Pra-PON Riau 2012 di Sentul Karting. Kontingen tersebut tercatat menjadi satu-satunya kontingen dari Sumatera yang lolos di seluruh nomor pertandingan.
Di sisi organisasi, Fariz telah bergabung dengan IMI Sumsel sejak 2004.
“Saya sudah bergabung dengan IMI Sumsel selama sekitar 20 tahun, sejak masih duduk di bangku SMA. Saat itu ayah saya menjabat sebagai sekretaris umum. Selama 20 tahun itu, kemampuan organisasi dan jaringan ekosistem saya ditempa dari level paling bawah,” tuturnya.
Pengalaman tersebut menjadi modal Fariz untuk memahami persoalan otomotif bukan hanya dari satu sudut pandang.
Ia mengaku mengetahui bagaimana kebutuhan atlet, klub, penyelenggara, sponsor, pengurus hingga media saling beririsan dalam sebuah ekosistem.
Karena itu, ia menawarkan model kepemimpinan yang lebih terbuka dan komunikatif.
“Yang kita butuhkan sekarang adalah jembatan. Ketua harus punya waktu, totalitas dan hadir untuk menjembatani semua stakeholder, mulai dari pengurus provinsi, Pengcab kabupaten/kota, klub, atlet, sponsor sampai media,” katanya.
Membidik Tiga Besar Nasional
Jika mendapat mandat memimpin IMI Sumsel, Fariz memasang target menjadikan Sumsel masuk tiga besar Pengprov IMI terbaik di Indonesia.
Target tersebut akan ditopang sejumlah program di bidang event, pembinaan atlet, mobilitas, sarana-prasarana serta sosial kemanusiaan.
Untuk event, Fariz ingin Sumsel lebih sering menjadi tuan rumah kegiatan berskala nasional. Jambore Nasional dan Kejuaraan Nasional menjadi bagian dari agenda yang ingin didorong.
Di tingkat klub, ia ingin menciptakan iklim yang membuat penyelenggaraan event lebih mudah.
“Kemudahan perizinan dan sponsor menjadi salah satu hal yang harus kita bantu. Jangan sampai klub yang ingin membuat event justru kesulitan karena persoalan administratif dan pembiayaan,” ujarnya.
Sementara di sektor pembinaan, ia menggagas pembentukan sekolah balap atau racing school.
Program itu diarahkan untuk menemukan dan membina talenta sejak usia dini hingga memiliki kemampuan bersaing di tingkat nasional maupun internasional.
Dukungan terhadap pembalap Sumsel yang berlaga di luar daerah juga menjadi bagian dari gagasannya.
Fariz juga menilai peningkatan kualitas sumber daya manusia pengurus dan petugas lapangan tidak kalah penting. Menurutnya, kualitas sebuah event sangat dipengaruhi oleh kompetensi orang-orang yang berada di belakangnya.
IMI Sebagai Rumah Bersama
Gagasan Fariz tidak berhenti pada pembalap dan kompetisi.
Ia ingin sekretariat IMI Sumsel dikembangkan menjadi “Rumah Bersama” yang representatif dan inklusif. Tempat tersebut diharapkan dapat menjadi ruang bertemunya pengurus, klub, atlet, sponsor, media dan berbagai stakeholder otomotif.
Ia juga ingin mengoptimalkan media sosial IMI Sumsel serta menghadirkan podcast yang membahas perkembangan otomotif.
Di sisi lain, kerja sama merchant melalui KTA IMI akan dioptimalkan, termasuk program sosial seperti Jumat Berkah.
Menurut Fariz, seluruh klub harus memperoleh ruang yang sama untuk berkembang.
“IMI Sumsel harus menjadi rumah untuk seluruh klub sebagai pemilik mandat dan 17 Pengcab kabupaten/kota. Klub besar dihargai, klub kecil dirangkul. Atlet dibina, event digelorakan, dan organisasi dibenahi,” tegasnya.
Gagasan tersebut mendapat respons dari sejumlah tokoh otomotif Sumsel.
Arief Purnomo (Pupung) menilai Fariz telah lama hidup di lingkungan otomotif sehingga memahami dinamika yang terjadi di lapangan.
Menurutnya, tantangan IMI ke depan bukan hanya menemukan pembalap berbakat, tetapi membangun sistem yang mampu membawa talenta daerah menuju level nasional.
“Fariz ini dari kecil sudah berada di dunia otomotif. Setiap daerah ada jagoannya untuk tingkat nasional. Yang menjadi pertanyaan sekarang, bagaimana ke depan supaya IMI semakin maju,” katanya.
Ia juga berharap tata kelola IMI Sumsel semakin transparan dan profesional, termasuk dalam penerbitan KTA maupun penyelenggaraan event.
“IMI jangan menjadi alat politik. Ke depan kita ingin IMI transparan, baik dalam membuat KTA maupun dalam membuat event,” ujarnya.
Pesan serupa disampaikan mantan pengurus IMI Sumsel sekaligus tokoh otomotif Sumsel, Ridwan Tumenggung.
Menurut Ridwan, langkah awal yang harus dilakukan calon ketua adalah membangun komunikasi dengan seluruh klub.
“Pesan saya untuk ananda Fariz, benahi dulu jumlah suara karena klub itu satu klub satu suara. Klub-klub ini harus dirangkul semua,” katanya.
Ia juga mengingatkan agar struktur kepengurusan tidak dibuat terlalu gemuk.
“Jangan banyak-banyak pengurus. Yang penting orang-orangnya mau bekerja,” ujarnya.
Bagi Fariz, pencalonan ini pada akhirnya bukan hanya tentang siapa yang akan memimpin IMI Sumsel selama lima tahun ke depan.
Lebih jauh, ia ingin momentum pergantian kepemimpinan menjadi kesempatan untuk menyatukan kembali berbagai kekuatan otomotif Sumsel yang selama ini berjalan di jalurnya masing-masing.
“Buku profil ini kami persembahkan sebagai komitmen. Mari bersama kita satukan tekad, raih prestasi dan harumkan nama Sumsel di kancah nasional. Bismillah, untuk IMI Sumsel yang lebih maju,” kata Fariz.
Bro Adi
083121221919















