Medan, Sumselraya — Situasi darurat lingkungan tengah mengancam Sumatera Utara. Aktivitas tambang ilegal kian merajalela, meninggalkan jejak kerusakan alam yang semakin parah dan mengancam keselamatan warga.
Melihat kondisi ini, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sumut akhirnya angkat suara keras. Mereka menyatakan dukungan penuh kepada aparat penegak hukum untuk bertindak tanpa kompromi: tutup, tangkap, dan bongkar semua praktik tambang ilegal yang masih beroperasi.
Bukan tanpa alasan. Dalam beberapa waktu terakhir, laporan demi laporan terus bermunculan—mulai dari hancurnya ekosistem hingga ancaman bencana seperti longsor dan banjir bandang yang bisa terjadi kapan saja.
“Ini bukan lagi soal pelanggaran biasa. Ini ancaman nyata bagi lingkungan dan nyawa manusia. Aparat harus bergerak cepat dan tegas,” tegas perwakilan WALHI Sumut.
Namun, WALHI tidak ingin penegakan hukum setengah-setengah. Mereka mendesak agar aparat tidak hanya menangkap pekerja lapangan, tetapi juga memburu para pemodal besar dan aktor intelektual yang selama ini bersembunyi di balik bisnis ilegal tersebut.
Jika hanya menyasar ‘orang kecil’, praktik ini dipastikan akan terus berulang tanpa pernah benar-benar berhenti.
Lebih jauh, WALHI juga mengingatkan bahwa pekerjaan tidak selesai setelah tambang ditutup. Lahan yang sudah rusak harus segera direhabilitasi agar tidak berubah menjadi sumber bencana di masa depan.
Kini, harapan besar tertuju pada langkah tegas dan kolaboratif dari aparat. Masyarakat menunggu: apakah hukum benar-benar akan ditegakkan, atau tambang ilegal akan terus menggerogoti alam Sumatera Utara tanpa henti?
Satu hal jelas—ini bukan sekadar isu lingkungan, tapi soal masa depan. (*Red/Risky)






