Menyambut Ramadhan dengan Cinta: 100 Paket Sembako dari Yayasan Kauny Insanul Quran untuk Pejuang Alquran

Palembang, Sumselraya – Ramadhan selalu datang membawa pesan yang sama: tentang kembali kepada Allah, tentang melembutkan hati, dan tentang menguatkan kepedulian. Menjelang 1447 Hijriah, pesan itu terasa nyata di Rumah Tahfidz Yayasan Kauny Insanul Quran Palembang.

 

Pada Senin, 16 Februari 2026, sejak pukul 08.30 WIB hingga selesai, halaman Rumah Tahfidz dipenuhi wajah-wajah penuh harap. Bukan untuk menerima sesuatu yang mewah, melainkan untuk merasakan kebersamaan dan perhatian. Sebanyak 100 paket sembako dibagikan kepada para santri mengaji, santri penghafal Alquran, anak-anak yatim piatu, lansia dhuafa, serta para guru ngaji.

 

Mereka adalah orang-orang yang hari-harinya diisi dengan ayat-ayat suci. Ada yang masih belia, menghafal Alquran dengan suara lirih namun penuh keyakinan. Ada pula lansia dhuafa yang tetap menjaga semangat ibadah di usia senja. Dan di antara mereka, para guru ngaji yang dengan sabar menuntun generasi Qurani tanpa pamrih.

 

Dalam sambutannya, Restanadi mengingatkan bahwa berbagi bukan hanya tentang memberi, tetapi tentang menyatukan hati.

“Harapannya dengan adanya acara ini semoga dapat memberikan semangat dalam menyambut bulan suci Ramadhan dan membangun kepedulian kita kepada para santri penghafal Alquran, yatim piatu, lansia dhuafa, dan guru ngaji.”

 

Suasana terasa hangat. Beberapa wali santri tampak tersenyum haru. Anak-anak memeluk paket sembako dengan wajah berbinar. Tidak sedikit doa yang terucap pelan, mengiringi tangan-tangan yang memberi.

 

Program ini bukan sekadar agenda tahunan. Ia adalah pengingat bahwa Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang menghadirkan rasa cukup bagi mereka yang kekurangan. Tentang memastikan para penjaga Alquran tidak merasa sendiri dalam perjuangan mereka.

 

Dan ketika langkah-langkah kecil kepedulian itu dikumpulkan, ia menjelma cahaya. Cahaya yang menerangi hati para santri, menguatkan para guru, menghangatkan para lansia, dan—barangkali—membersihkan jiwa kita sendiri sebelum Ramadhan benar-benar tiba.

 

Sebab pada akhirnya, yang kita beri mungkin hanya sembako. Tetapi yang kembali kepada kita bisa jadi adalah doa-doa tulus yang melangit, mengetuk pintu rahmat Allah di bulan yang penuh ampunan nanti. (*red/Ah)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *